UTHM, Malaysia — 5 Agustus 2026. Misi memperkenalkan dan memperjuangkan kekayaan biodiversitas Indonesia terus dilakukan oleh Tim UIN Walisongo Semarang dalam rangkaian kegiatan akademik di Malaysia. Setelah membawa misi pengenalan biodiversitas sejak usia dini di Sanggar Belajar Kampung Baru, tim melanjutkan kegiatan dengan membangun jejaring akademik dan peluang kolaborasi bersama peneliti Universiti Tun Hussein Onn Malaysia (UTHM).

Pertemuan yang berlangsung pada 5 Agustus 2026 tersebut diikuti oleh tim UIN Walisongo Semarang yang terdiri atas Dr. Baiq Farhatul Wahidah, M.Si., Dian Ika Aryani, M.T., Asri Febriana, M.Si., Widi Cahya Adi, M.Pd, dan Dr. Listyono, M.Pd.  Tim UIN Walisongo berdiskusi bersama Prof. Madya Ts. Dr. Siti Fatimah binti Sabran dari UTHM untuk membahas berbagai kemungkinan kerja sama dalam bidang biodiversitas, etnobotani, pengetahuan tradisional, dan konservasi.

Etnobotani: Mendokumentasikan Pengetahuan Masyarakat untuk Menjaga Biodiversitas

Salah satu fokus utama pembahasan adalah etnobotani, khususnya bagaimana pengetahuan masyarakat mengenai tumbuhan dapat didokumentasikan dan dikembangkan menjadi bagian dari upaya pelestarian biodiversitas.

Masyarakat selama ini memiliki pengetahuan yang sangat berharga mengenai tumbuhan di lingkungan mereka. Pengetahuan tersebut mencakup cara mengenali tumbuhan, nama lokal, pemanfaatan sebagai pangan maupun obat, cara pengelolaan, hingga berbagai bentuk interaksi masyarakat dengan tumbuhan dan habitatnya.

Bagi Tim UIN Walisongo Semarang, pengetahuan tersebut merupakan bagian dari kekayaan yang perlu diselamatkan. Biodiversitas tidak hanya berbicara tentang jumlah jenis tumbuhan yang ada, tetapi juga tentang pengetahuan manusia yang berkembang bersama keberadaan tumbuhan tersebut.

Dokumentasi etnobotani menjadi penting karena perubahan sosial dan lingkungan dapat menyebabkan pengetahuan tradisional perlahan hilang. Ketika pengetahuan masyarakat tidak lagi diwariskan kepada generasi berikutnya, maka hilang pula salah satu sumber informasi penting mengenai keanekaragaman hayati lokal.

Karena itu, penelitian etnobotani diharapkan tidak berhenti pada pencatatan manfaat tumbuhan. Dokumentasi dapat dikembangkan untuk memahami hubungan masyarakat dengan tumbuhan, pola pemanfaatan, pengetahuan tentang habitat, serta potensi penerapan konservasi berbasis masyarakat.

Masyarakat sebagai Mitra Konservasi

Diskusi juga menekankan pentingnya menempatkan masyarakat sebagai mitra dalam pelestarian biodiversitas, bukan semata-mata sebagai objek penelitian.

Pengetahuan masyarakat dapat menjadi pintu masuk untuk mengidentifikasi tumbuhan yang memiliki nilai budaya, pangan, obat, maupun ekologis. Informasi tersebut kemudian dapat dikembangkan melalui penelitian ilmiah untuk mendukung pemanfaatan yang berkelanjutan dan perlindungan terhadap jenis maupun habitatnya.

Pendekatan ini menjadi semakin relevan dalam konservasi tumbuhan yang belum memiliki nilai ekonomi tinggi. Sebagaimana terlihat pada Amorphophallus, tidak semua jenis mendapatkan perhatian yang sama. Jenis yang memiliki nilai ekonomi seperti porang lebih mudah mendapatkan perhatian, sementara jenis lain yang tumbuh liar dapat luput dari perhatian konservasi.

Karena itu, mendokumentasikan pengetahuan masyarakat dapat menjadi salah satu strategi untuk memperluas perhatian terhadap biodiversitas yang selama ini belum banyak dikenal maupun dimanfaatkan.

Membuka Peluang Kolaborasi UIN Walisongo–UTHM

Pertemuan dengan Prof. Madya Ts. Dr. Siti Fatimah binti Sabran menjadi momentum penting untuk membuka peluang kolaborasi antara UIN Walisongo Semarang dan UTHM.

Kolaborasi ke depan dapat diarahkan pada kajian etnobotani, dokumentasi pengetahuan tradisional masyarakat, inventarisasi biodiversitas tumbuhan, pemanfaatan tumbuhan secara berkelanjutan, serta pengembangan strategi konservasi berbasis masyarakat.

Kolaborasi Indonesia–Malaysia ini juga diharapkan dapat memperkuat jejaring penelitian biodiversitas di kawasan Asia Tenggara. Kedua negara memiliki kekayaan flora tropis serta keragaman budaya masyarakat yang dapat menjadi sumber kajian etnobotani yang sangat luas.

Bagi Tim UIN Walisongo Semarang, perjalanan akademik ke Malaysia bukan sekadar kunjungan, tetapi bagian dari upaya membangun jejaring dan kerja sama untuk memperjuangkan biodiversitas Indonesia.

Misi tersebut bergerak dalam beberapa lapisan: mengenalkan biodiversitas sejak usia dini, mendokumentasikan pengetahuan masyarakat, hingga mempertemukan peneliti untuk membangun kolaborasi konservasi.

Dari tumbuhan yang dikenal masyarakat, tersimpan pengetahuan yang berharga. Dari pengetahuan tersebut, dapat dibangun penelitian. Dan dari penelitian serta kolaborasi, diharapkan lahir langkah nyata untuk menjaga biodiversitas Indonesia.

Karena melestarikan biodiversitas bukan hanya menyelamatkan tumbuhannya, tetapi juga menyelamatkan pengetahuan manusia tentang tumbuhan tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *