Malaysia — 4 Agustus 2026. Sehelai daun bisa menjadi pintu masuk untuk mengenalkan kekayaan Indonesia kepada anak-anak yang tumbuh jauh dari tanah air. Pesan itulah yang dibawa Tim UIN Walisongo Semarang ketika hadir di Sanggar Belajar Kampung Baru, Malaysia, dalam kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk Young Biodiversity Explorer.
Melalui kegiatan tersebut, Dr. Baiq Farhatul Wahidah, M.Si. dari bidang Biologi dan Dian Ika Aryani, M.T. dari bidang Teknik Lingkungan mengajak anak-anak mengenal biodiversitas Indonesia dengan cara yang sederhana, kreatif, dan menyenangkan.
Bukan sekadar mengenalkan nama tumbuhan, anak-anak diajak menjadi penjelajah biodiversitas. Mereka belajar mengamati tumbuhan di sekitar, mengenali bentuk, ukuran, warna, tulang daun, serta bagian-bagian tumbuhan lainnya. Dari aktivitas sederhana itu, anak-anak diajak memahami bahwa tumbuhan merupakan bagian penting dari kehidupan dan kekayaan alam yang perlu dijaga.

Dari Sehelai Daun Menjadi Karya Kreatif
Salah satu kegiatan yang paling menarik perhatian anak-anak adalah pembuatan herbarium kreatif.
Jika herbarium umumnya dikenal sebagai koleksi tumbuhan kering untuk pembelajaran dan dokumentasi, dalam kegiatan ini konsep tersebut dibuat lebih dekat dengan dunia anak-anak. Tumbuhan kering diolah menjadi karya yang dapat mereka gunakan sehari-hari, seperti gantungan kunci, gantungan HP, dan pembatas buku.
Anak-anak terlihat antusias memilih, mengamati, menyusun, dan menghias bahan tumbuhan yang digunakan. Kegiatan tersebut mempertemukan sains, kreativitas, dan kecintaan terhadap alam dalam satu aktivitas yang sederhana.
Bagi Tim UIN Walisongo Semarang, cara seperti ini penting karena pengenalan biodiversitas tidak harus dimulai dengan istilah-istilah ilmiah yang rumit. Anak-anak dapat terlebih dahulu diajak mengenal, mengamati, menyukai, kemudian belajar menjaga apa yang ada di sekeliling mereka.
Pesan yang ingin ditanamkan sederhana: kenali, amati, dokumentasikan, dan lestarikan.
Menanamkan Kecintaan pada Biodiversitas Indonesia
Pengenalan biodiversitas sejak usia dini diharapkan tidak berhenti pada pengetahuan tentang berbagai jenis tumbuhan. Lebih jauh, kegiatan ini menjadi langkah awal untuk menumbuhkan rasa ingin tahu, kecintaan, dan kepedulian terhadap alam Indonesia.
Anak-anak perlu mengetahui bahwa Indonesia merupakan negara yang kaya akan keanekaragaman hayati. Kekayaan tersebut bukan hanya sesuatu yang dapat ditemukan dalam buku pelajaran, tetapi merupakan bagian dari kehidupan yang harus dihargai dan dijaga.
Menariknya, kegiatan ini berlangsung bukan di Indonesia, melainkan di Malaysia. Karena itu, pengenalan biodiversitas juga menjadi cara untuk menjaga kedekatan anak-anak Indonesia dengan kekayaan alam dan identitas tanah airnya.
Sanggar Bimbingan Kampung Baru, Ruang yang Perlu Dirangkul Bersama
Di balik kegiatan yang penuh keceriaan tersebut, Tim UIN Walisongo Semarang juga menemukan makna yang lebih luas. Sanggar Bimbingan Kampung Baru merupakan salah satu ruang belajar bagi anak-anak Indonesia di Malaysia, termasuk anak-anak pekerja migran Indonesia (TKI).
Jauh dari tanah air, mereka tetap membutuhkan ruang untuk belajar, bertumbuh, berekspresi, dan mendapatkan pengalaman pendidikan yang bermakna. Karena itu, keberadaan sanggar dan anak-anak yang belajar di dalamnya membutuhkan perhatian dan kepedulian bersama, khususnya dari sesama warga Indonesia.
Kehadiran Tim UIN Walisongo Semarang diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan berbagi pengetahuan selama satu hari. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi bentuk kepedulian dan upaya untuk menyapa anak-anak Indonesia yang sedang tumbuh dan belajar jauh dari tanah air.
Bagi tim, memperkenalkan biodiversitas Indonesia kepada mereka juga merupakan cara sederhana untuk mengatakan bahwa Indonesia tetap dekat dengan mereka, meskipun mereka sedang berada di negeri orang.
Biodiversitas dan Anak-Anak: Investasi untuk Masa Depan
Melalui kegiatan Young Biodiversity Explorer, Tim UIN Walisongo Semarang membawa satu pesan penting: memperjuangkan biodiversitas harus dimulai sejak dini.

Hari ini mungkin hanya sebuah daun yang diamati, dikeringkan, dan dijadikan pembatas buku. Namun dari sehelai daun itu, anak-anak belajar tentang kehidupan, keanekaragaman, kreativitas, dan pentingnya menjaga alam.
Sebab, generasi yang mengenal biodiversitas sejak kecil diharapkan kelak tidak hanya mampu memahami dan menghargai kekayaan hayati Indonesia, tetapi juga memiliki kepedulian untuk ikut melestarikannya.
Dan dari Sanggar Belajar Kampung Baru, pesan itu dibawa lebih jauh:
mengenalkan biodiversitas Indonesia berarti juga menanamkan kecintaan kepada Indonesia—kepada anak-anak Indonesia, di mana pun mereka tumbuh dan belajar.
